krisnamurti

nilai dan keindahan dari kebudayaan lokal

  • image
  • image
  • image
  • image
  • image
  • image

Segitiga warna

 

Warna merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam industri finishing. Salah satu tujuan utama dalam proses finishing adalah membentuk warna. Mencampur dan membuat warna merupakan salah satu keahlian yang sangat dibutuhkan oleh para pelaku industri finishing. Untuk membuat pencampuran warna menjadi lebih mudah dilakukan maka sebenarnya kita bisa menggunakan suatu alat yang sangat sederhana namun sangat berguna yaitu: diagram segitiga warna atau lingkaran warna.  Diagram ini merupakan suatu lingkaran dengan berbagai warna di garis lingkarannya dan segitiga sama sisi di dalamnya, karena itu ada juga yang menamakan diagram ini sebagai diagram segitiga warna.

 

Prinsip  cara menggunakan diagram lingkaran warna selengkapnya adalah sebagai berikut (lihat gambar 1):

 diagram untuk membantu pencampuran warna

 

gambar 1 diagram lingkaran warna biru

1. Pencampuran warna kearah samping lingkaran akan menghasilkan warna sesuai dengan warna yang ada pada diagram.

Warna merah, biru dan kuning adalah warna primer. Semua warna lain dapat dibuat dari pencampuran dari ketiga warna primer tersebut. Warna merah dicampur dengan warna kuning akan menghasilkan warna orange, warna kuning dicampur dengan warna biru akan menghasilkan warna hijau, warna biru dicampur dengan warna merah akan menghasilkan warna ungu. Warna orange, hijau dan ungu yang merupakan pencampuran dari 2 warna primer ini disebut juga sebagai warna sekunder. Pencampuran warna-warna ini apabila dilanjutkan akan dapat menghasilkan banyak  warna-warna yang lain. Misalnya warna merah dicampur dengan warna ungu akan menghasilkan warna ungu kemerahan, warna ungu dicampur dengan warna biru akan menghasilkan warna ungu kebiruan dan serusnya. 

2. Pencampuran warna kearah pusat lingkaran akan menghasilkan warna coklat.

Warna coklat adalah pusat dari lingkaran warna. Apabila seluruh warn dicampur dengan kekuatan yang seimbang maka akan membentuk warna coklat. Warna-warna yang berlawanan dalam diagram tersebut apabila dicampurkan maka warna yanga dihasilkan adalah warna coklat. Warna orange dicampur dengan warna biru, warna merah dengan warna hijau, warna ungu dengan warna kuning akan menghasilkan warna coklat. Prinsip ini bisa juga digunakan untuk menetralkan warna dari suatu warna dan membawanya kearah warna yang lebih coklat. Misalnya warna yang terlalu merah dapat diturunkan dengan menambahkan sedikit warna hijau sehingga menjadi warna coklat, warna yang terlalu ungu dapat diturunkan kearah warna coklat dengan penambahan warna biru dan seterusnya. 

Warna biru pada diagram warna dapat digantikan oleh warna hitam dengan efek pencampuran yang sama. Warna merah dicampur dengan warna hitam akan menghasilkan warna ungu, warna kuning dicampur dengan warna hitam akan menghasilkan warna hijau sedangkan warna orange dicampurkan dengan warna hitam akan menghasilkan warna coklat. Namun tentu saja warna yang diperoleh dari pencampuran dengan warna coklat akan berbeda dengan warna yang diperoleh dari pencampuran dengan warna biru. Lihat pada gambar 2.

diagram segitiga warna

gambar 2 diagram lingkaran warna hitam

Penggunaan diagram lingkaran warna untuk pemilihan stain pada finishing kayu.

Diagram ini merupakan alat yang sangat membantu dalam memilih suatu warna stain pada finishing kayu.  Pada finishing dengan warna transparan (warna kayu atau warna politur) maka warna akhir diperoleh dari pencampuran antara warna dasar kayu dengan warna stain yang dilapiskan di atasnya. Pada saat ini industri finishing sudah menyediakan berbagai macam warna stain yang bisa digunakan untuk melakukan pewarnaan pada wood finishing, namun kenyataannya  pemilihan stain yang tepat ini seringkali tidak mudah dilakukan. Pada warna transparan, maka stain harus bisa menghasilkan perpaduan yang tepat dengan warna kayu dibawahnya sehingga menghasilkan warna finishing akhir yang diinginkan. Untuk membantu pemilihan warna stain ini dapat digunakan diagram lingkaran warna dengan prinsip pencampuran dan perpaduan warna seperti pada prinsip satu atau prinsip 2.

Misalnya kita menginginkan suatu warna coklat tua dari kayu mahoni yang berwarna merah. Maka kita akan membutuhkan stain dengan warna hijau untuk menetralkan warna merah dari kayu mahoni dan warna coklat untuk membentuk warna coklat yang diinginkan. Jadi stain yang kita butuhkan adalah stain dengan warna coklat kehijauan. Apabila stain coklat sudah ada, maka kita bisa juga menggunakan 2 warna stain yaitu stain warna hijau untuk menetralkan warna merah dan kemudian menggunakan stain dengan warna coklat untuk membentuk warna coklat yang diinginkan. Prinsip yang sama dapat digunakan untuk menghasilkan warna-warna transparan yang lain. Pada kenyatannya sebagian besar warna finishing kayu adalah warna coklat, karena itu prinsip penetralan warna pada diagram warna ini merupakan salah satu hal yang paling sering digunakan.

Diagram lingkaran warna untuk pencampuran stain

Diagram ini juga bisa digunakan untuk membantu pencampuran stain. Penggunaan diagram lingkaran warna untuk pencampuran stain ini pada prinsipnya sama dengan pencampuran untuk menghasilkan warna. Pencampuran warna ke arah samping sesuai dengan diagram pada lingkaran sedangkan pencampuran warna ke arah pusat lingkaran akan menghasilkan warna coklat. Misalnya kita akan membuat suatu stain dengan warna ungu, maka bisa membuatnya dari campuran antara stain merah dan stain biru. Warna coklat dibuat dari warna ungu dengan warna kuning dan seterusnya.  Pencampuran warna akan selalu mengikuti aturan pertama dan aturan kedua yang ditunjukkan pada diagram lingkaran warna.

Meskipun demikian pencampuran stain pada proses finishing bisa jadi lebih komplek dan rumit.  Saat ini tersedia banyak stain yang masing-masing dibuat dengan spesifikasi tertentu dan banyak sekali pigment yang telah digunakan dalam industri finishing, masing-masing pigment memiliki keunikan warna sendiri dan bisa jadi menghasilkan efek pencampuran yang berbeda. Pigment untuk warna hitam misalnya bisa jadi memiliki warna yang berbeda dari suatu merk satu dengan merk lainnya. Karena itu pengenalan terhadap suatu stain dan pigment sangat dibutuhkan dalam proses pencampuran warna. Pencampuran warna pada pembuatan stain juga hanya dapat dilakukan apabila pigment tersebut dibuat dari jenis yang sama dan menggunakan bahan pelarut yang sama. Karena itu apabila kita akan melakukan pencampuran warna pastikan bahwa kita mengenali pigment yang kita gunakan. Akan lebih mudah dan aman jika kita menggunakan pigment dari produsen yang sama. 

Selain warna-warna tersebut maka kita juga mengenal warna putih. Warna putih tidak masuk dalam diagram lingkaran warna karena akan menghasilkan efek pencampuran warna yang jauh berbeda. Setiap warna apabila dicampur dengan warna putih, maka warna tersebut akan menjadi pucat atau berkurang kekuatannya. Pencampuran antara wood stain dengan pigment putih akan membuat pewarnaan yang dihasilkan menjadi lebih pucat atau duller, karenanya penambahan warna putih dalam suatu stain harus dilakukan dengan hati-hati. Suatu stain yang sudah ditambah dengan warna putih dan menjadi pucat tidak akan bisa dibuat menjadi cerah dan jernih lagi

Sebaliknya bisa juga suatu warna putih merupakan warna yang dominan dalam suatu stain dengan sedikit nuansa warna lainnya. Seperti warna putih kecoklatan, atau warna putih kemerahan, dll. Warna-warna ini biasanya banyak ditemukan pada warna-warna duko (warna opak atau warna solid). Pada warna-warna ini, maka diagram warna dapat digunakan untuk membantu menemukan tambahan warna yang dibutuhkan untuk menghasilkan nuansa warna yang diperlukan.

{jcomments on}

 

Share